Per Mariam Ad Jesum

Melalui Maria kepada Yesus, demikianlah arti bahasa latin di atas, lantas siapakah Maria?
"Ibu Yesus. Oke, so what?"
"Tahu sih, tapi ya gitulah, nggak kenal-kenal amat."
Begitulah jawaban yang terlintas ketika diberikan pertanyaan tentang siapa Bunda Maria, ketika saya belum mengenal dan mengalami relasi dengan-Nya.

Ada pepatah yang bilang "tak kenal maka tak sayang", maka di zaman teknologi informasi serba canggih ini, saya mengajak teman-teman untuk  bertanya ke "Om Google" dan ketik key word "Mother Mary" atau "Bunda Maria" atau "Rosario". Ada banyak sekali informasi tentang Bunda Maria yang bisa kalian dapat dari sana dan supaya internet kalian tidak hanya digunakan untuk buka facebook and main game – Hehehe...

Namun kali ini kita tidak akan membahas tentang siapa itu bunda Maria, karena jika dijelaskan maka bisa-bisa tulisan ini berakhir menjadi sebuah buku. Saya hendak bercerita tentang pengalaman hidup bersama bunda Maria. Well, saya dibaptis saat duduk di bangku kuliah. Tetapi, sejak sekolah dasar saya bersekolah di sekolah Katolik sehingga saya telah mengenal dasar-dasar iman Katolik dan tahu tentang Bunda Maria. Namun saya tidak pernah merasa benar-benar perlu memiliki agama karena kedua orang tua saya pun demikian. Prinsip yang mereka ajarkan kepada saya adalah asalkan kita hidup baik di jalan benar dan tidak menyakiti orang lain maka itu sudah cukup. Maka saya pun menjalani kehidupan dengan prinsip hukum emas itu.

Namun ada satu momen yang saya amat suka dari gereja Katolik dan selalu saya nanti-nanti setiap tahun, yaitu perayaan Natal. Entah mengapa, meskipun saya belum menjadi seorang Katolik, sejak kecil saya selalu menyukai film-film bertemakan Natal. Pada bulan Desember tahun 2006 saya mendapatkan sebuah kado Natal yang tidak terduga. Ketika itu saya belum dibaptis, namun teman-teman saya kebanyakan beragama Katolik.  Lalu untuk merayakan Natal kami membuat acara tukar kado, dan saya cukup kaget ketika membuka bingkisan kado yang isinya berupa Rosario. Awalnya saya kecewa karena teman-teman yang lain dapat hal yang berguna, tetapi saya malah dapat Rosario yang saya tidak tahu harus diapakan.

Setelah menerima Rosario itu, saya letakkan di atas meja belajar, dan setiap melihatnya saya mulai berpikir dan timbul pertanyaan tentang iman. Ada dorongan yang muncul untuk mengenal lebih dalam mengenai iman Katolik. Akhirnya dorongan itu menuntun saya untuk mengikuti kelas katekumen pada awal tahun. Singkat cerita saya pun mengikuti kelas katekumen dan dibaptis setahun setelahnya.

Itulah kesan pertama saya tentang bunda Maria melalui kado Natal berupa Rosario yang menuntun saya pada iman kepada Kristus. Namun saya hanya mengenal bunda Maria sebagai penolong ketika sedang mengalami masalah berat dalam hidup dan pengabul permohonan. Saya sering mendengar banyak cerita dari orang-orang yang permohonannya terkabul ketika berdoa Rosario.

Saya pun pernah mengalaminya ketika berdoa bagi seorang teman yang didiagnosis menderita sakit gejala Tifus, Campak, dan DBD dalam waktu yang bersamaan. Waktu itu saya mengira teman saya ini mungkin akan dipanggil Tuhan namun ajaibnya Ia malah sembuh dalam waktu singkat dan hanya di rawat inap selama 5 hari . Begitu dahsyatnya kuasa doa hingga kami suka bercanda bahwa jangan-jangan diagnosisnya salah.

Pengalaman lain bersama bunda Maria adalah saya sering berdoa Salam Maria ketika merasa ketakutan atau ketika merasa sedang dalam bahaya. Pernah suatu ketika saya sedang naik perahu speed boat saat liburan dan tiba-tiba terjadi badai. Saat itu ombaknya begitu tinggi hingga bagian depan perahu terangkat dan berada pada posisi seakan-akan hendak terbalik. Para penumpangnya didalamnya panik ketakutan, satu persatu mulai mengambil life jacket  yang terbatas jumlahnya, dan malangnya nasib, saya tidak kebagian. Beberapa turis asing yang wanita mulai berteriak histeris dalam bahasa asing dan ada pula yang menangis sehingga suasana makin runyam.

Waktu itu saya mengambil posisi duduk di paling belakang dengan pemikiran jika perahu terbalik saya bisa dengan mudah keluar dari kapal – Hehehe... Namun ternyata itu ide yang buruk, karena dari belakang perahu, saya dapat melihat dengan jelas ombak yang tingginya melewati tinggi perahu dan sejauh mata memandang yang terlihat hanya air laut. Mulai terlintas dalam benak saya gambaran kehidupan semenjak masih kecil hingga saat itu, sehingga saya merasa bahwa ini adalah detik-detik terakhir dalam hidup saya. Sampai suatu momen ketika saya menoleh ke arah seorang turis asing dari India berbadan gemuk dengan tato Yesus di salah satu bahunya dan bunda Maria di bahu yang lain.

Seketika itu juga saya ingat pada Bunda Maria dan terus mendoakan doa Salam Maria selama badai. Perlahan-lahan hati saya menjadi semakin tenang meskipun ombak tetap besar dan angin tetap kencang. Bahkan semakin besar ombak dan angin yang bertiup semakin kencang, malah menjadikan saya semakin kencang berdoa dalam hati. Tidak henti-hentinya saya berdoa kepada Bunda Maria hingga akhirnya saya merasa siap untuk menerima kemungkinan yang terburuk bahwa inilah akhir dari hidup saya. Namun ternyata Tuhan belum memanggil saya dan perahu yang saya tumpangi berhasil selamat melewati badai. Sungguh momen itu menjadi pengalaman iman yang luar biasa dalam hidup saya.

Lalu setelah melewati semua itu ternyata tetap saja saya belum memahami betapa besar rahmat yang Tuhan berikan melalui devosi kepada Maria. Hingga akhirnya saya mengalami pertobatan melalui doa kepada bunda Maria. Saat itu saya merasa Tuhan begitu jauh, dan  saya sungguh tidak layak karena telah berbuat dosa dan menjauh dari Tuhan. Sehingga ketika berdoa tidak ada kata yang mampu terucap dari dalam hati dan pikiran. Ketika itu untunglah pandangan saya terarah pada Rosario dan ketika mendoakan doa Rosario dengan khusuk dan sungguh-sungguh, setiap doa Salam Maria pada butir-butir rosario memberikan kelegaan pada hati dan air mata pun mulai mengalir.

Selesai berdoa Rosario perasaan menjadi lebih tenang dan seperti ada semangat baru dan kekuatan untuk berani mengambil langkah pertobatan. Saya merasa bunda Maria yang sungguh-sungguh manusia begitu dekat dan dapat memahami apa yang kita alami. Dengan belas kasihnya dan kepenuhan rahmatnya maka pertolongan bunda Maria sungguh-sungguh mampu mengubah hidup kita. Tidak hanya dalam setiap masalah dan pergumulan kita, melalui Maria yang menuntun kita pada Iman kepada Yesus Kristus Putra-Nya yang terkasih Tuhan kita.

Bersama dengan ini saya mau mengajak teman-teman untuk lebih mengalami relasi dengan Bunda Maria dalam hidup kita. Caranya begitu mudah, yaitu hanya dengan meluangkan waktu ± 20 menit untuk berdoa Rosario setiap harinya. Bagaimana cara berdoa Rosario dapat dilihat di Puji Syukur No 213, atau bisa ditanyakan pada "Om Google". Ada banyak sekali kekayaan rohani yang kita dapatkan dengan berdoa Rosario seperti tertulis dalam tulisan "15 Janji Bunda Maria kepada Orang-orang yang Berdoa Rosario"- sekali lagi, bisa dicari sendiri di internet.

Akhir kata seiring dengan ini terlampir pesan bunda Maria dalam peristiwa penampakan Maria kepada tiga orang anak gembala di Fatima pada tahun 1917.

Terima Kasih Bunda Maria...

Jangan Lupa :

  • Dapat menerima indulgensi penuh tiap kali berdoa Rosario di Gereja atau di Kapel, di rumah bersama keluarga atau organisasi.
  • Aku adalah Ratu Rosario yang suci....

berdoalah Rosario untuk :
    Orang-orang berdosa.
    Untuk perdamaian dunia.

  •  Suruhlah kaum beriman bertobat dan berbuat silih.

 

(Fatima, 13 Oktober 1917)

Referensi peristiwa penampakan maria di fatima 1917 http://www.indocell.net/yesaya/id66.htm