Young Catholic And The Bible

Apakah kamu mempunyai Alkitab pribadimu? Kapan pertama kali kamu mempunyainya?

Saya mendapatkan Alkitab pribadi saya sebagai hadiah ketika saya menerima Komuni Pertama. Waktu itu saya kelas 3 SD. Saya sangat bangga diberikan sebuah Alkitab dan menuliskan nama, alamat, nomor telepon saya di halaman-halaman bagian depannya. Mama saya pernah berkata bahwa Alkitab itu merupakan Surat Cinta dari Tuhan untuk manusia. Tetapi saya tidak terlalu mengerti hal itu saat itu.

Ketika SMA, saya bertemu dengan teman-teman yang juga membaca Alkitab, walaupun mereka bukan Katolik. Saya pun waktu itu semangat berkomitmen bersama teman-teman saya untuk membacanya. Ketika saya membaca kisah-kisah yang ada di dalamnya, saya seperti bernostalgia. Ternyata tanpa saya sadari, saya pernah membaca kisah-kisah tersebut di dalam buku-buku kisah Alkitab bergambar favorit saya ketika saya masih kecil dulu – tapi yang ini versi lebih lengkapnya. Sayang sekali setelah saya berpisah dengan buku-buku cerita bergambar dan sudah lebih mampu untuk membaca buku sekelas novel dan buku pelajaran lainnya – yang isinya tulisan semua, saya tidak melanjutkan memahami kisah cerita Alkitab bergambar saya dengan Alkitab saya sesungguhnya.

Saya rasa sangat disayangkan ketika kadang sebagai umat Katolik dianggap tidak suka membaca Alkitab oleh teman Kristen lainnya. Padahal melalui Surat Cinta Tuhan tersebut dan didukung dengan ajaran-ajaran Gereja lainnya, saya dapat mengenal Yesus lebih lagi. Saya mengenal Dia lebih dalam melalui kisah-kisah pengalaman Yesus dan nabi-nabiNya, dan juga berbagai ajaran yang tidak ditulis dalam Alkitab – ajaran yang hanya dapat dimengerti oleh para murid Yesus yang bersama-sama dengan Dia – yang diteruskan dalam ajaran-ajaran Gereja Katolik.

Saya ingat seorang Romo pernah menceritakan sebuah perumpamaan, kalau kita sedang jatuh cinta dengan seseorang, pasti kita punya waktu khusus untuk meluangkan waktu bersama dia. Begitupun jika saya mencintai Tuhan, tentunya saya ingin meluangkan waktu bersama-Nya dan apalagi ingin lebih memahami Dia. Kita dapat memahami Dia lebih lagi melalui Alkitab dan juga ajaran-ajaran Gereja Katolik lainnya.

Jadi, apakah saya sungguh mencintai Tuhan jika saya tidak mencintai FirmanNya? Saya sangat mengingat kutipan perkataan Paus Emeritus Benediktus XVI dalam pengantar buku YouCat – Youth Cathecist: “You need to be more deeply rooted in the faith than the generation of your father.” – Kita (generasi kita-kita ini) harus lebih berakar lebih dalam lagi dalam iman dibandingkan generasi orang tua kita.

Puji Syukur apabila orang tua kamu pun suka membaca Alkitab dan menanamkan kebiasaan tersebut untuk kamu, tetapi jika tidak, mulailah pada generasi kita ini. Sudah enggak zamannya lagi kalau masih ada anak muda Katolik yang tidak suka membaca Alkitab.