BEWARE OF THE FOX

Bulan lalu, selama beberapa pekan saya benar-benar tidak bisa tidur. Tidak bisa tidur yang saya maksudkan adalah, mencoba untuk tidur nyenyak, dan berkali-kali gagal karena mimpi buruk. Pada minggu-minggu itu, saya sampai merasa takut untuk tidur. Waktu tidur saat itu menjadi sangat menegangkan, seperti dipaksa nonton film horror. Saya anti film horror. Bukannya norak – tapi jika saya melihat atau membaca adegan yang seram – hal tersebut terasa seperti rekaman yang di-rewind and play – di play kembali ketika saya memejamkan mata.

Selesai mengerjakan tugas di malam hari, ingin rasanya istirahat sejenak dengan browsing Facebook, Instagram, dan lainnya. Siapa tahu ada hal-hal lucu yang bisa membuat saya lebih lega, bersantai sejenak ke bayangan lain yang lebih menyenangkan hati. Ternyata, berita yang saat itu sedang berkali-kali muncul di media sosial adalah kasus pembuhunan. Banyak sekali posting-an yang membahas mengenai kasus tersebut. Ada yang marah, ada yang hanya share, sampai yang membuat berbagai meme untuk ditertawakan. Dan hal tersebut membuat mimpi buruk saya makin menjadi-jadi. Jika banyak quotes yang berkata “bersyukurlah karena kamu masih bernapas”, saat itu saya ingin berkata “bersyukurlah kamu bisa tidur nyenyak!”

Hasil dari perenungan saya – dari kasus-kasus tersebut menjadi jelas ketika saya menonton film Zootopia. Dalam film tersebut disampaikan – berkali-kali dan bertubi-tubi mengenai stereotyping. Ketika saya merenungkan kembali posting-an yang saya baca, baik yang me-like, men-share, memberikan opini, semuanya terkesan peduli dengan kasus tersebut. Namun, jika saya pikir-pikir kembali, sebenarnya banyak berita yang saya baca mengiring saya ke arah stereotyping terhadap pihak-pihak yang disebutkan dalam kasus tersebut. “Jahat sekali dia” atau “bodoh sekali dia” –Sebenarnya – apakah perlu? Kenalkah saya dengan mereka? Tidak.

Zootopia membawa saya pada penyadaran diri bahwa seringkali saya merasa seakan sedang berperan menjadi hakim di pengadilan dalam benak saya. Walikota singa yang ternyata menyembunyikan sesuatu yang sempat menjadi jahat ternyata ada di posisi tidak berdaya. Sekretaris domba yang terlihat kasihan sekali ternyata dalang di balik semuanya. Dan yang paling jelas adalah, rubah yang terlihat penipu dan licik – ternyata menjadi demikian justru Karena stereotype yang diberikan kepadanya sejak ia masih kecil.

Dalam hidup saya sehari-hari, saya juga seringkali melakukan stereotyping terhadap teman saya. Dia ‘kelihatannya’ baik, karena itu saya baik terhadapnya. Teman-teman mengatakan dia ‘licik’, jadi saya harus super hati-hati terhadapnya. Dan sebagainya. Atau seringkali, tanpa sadar mungkin saya pernah membicarakan sepupu saya ‘ih dia nakal sekali ya’ atau ‘ih kamu kok gitu banget ya’. Saya merasa harus berulang kali memurnikan kembali hati saya – bahwa – saya tidak punya kuasa untuk mengatakan demikian.

Jika seorang pembuat proyektor membuat proyektor dan saya tidak mengerti benda apa itu – apakah saya berhak mengatakan kalau benda tersebut adalah kotak hitam tidak berguna? Jika seorang pembuat remote garasi membuat remote dan saya tidak mengerti gunanya – apakah saya berhak mengatakan bahwa benda itu hanyalah sekumpulan tombol mainan? Begitu pula pandangan kita terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Siapakah yang menciptakan mereka? Berhakkah saya memberikan identitas yang tidak baik bagi mereka?

Jika kita masih melakukan hal tersebut – mari memperbaiki diri. Do not judge the book by its cover.