BENARKAH TUBUH KITA JAHAT?

“The body, in fact, and only the body, is capable of making visible what is invisible. The spiritual and the divine.“ (Saint John Paul II)

Pertama kali gw mengenal istilah “makanan rohani” adalah ketika kakak perempuan gw mempunyai pajangan berbentuk roti tawar yang di dalamnya berisikan kartu-kartu kecil berisikan ayat-ayat Alkitab. Yang gw tahu saat itu adalah kita mempunyai roh, tidak hanya tubuh, yang harus kita beri makan juga dengan firman Tuhan. Namun manakah yang lebih penting, tubuh, atau roh?

Tubuh = ke-daging-an?

Pemikiran yang serius akan tubuh dan roh muncul kembali saat SMA. Guru SMA favorit gw berkata bahwa jelas, roh lebih penting daripada tubuh. Roh kita lah yang nantinya akan kembali kepada Bapa dan bukan tubuh kita. Tubuh kita fana. Saat itu pemikiran gw jadi tercampur aduk antara yang namanya tubuh dan juga daging. Untuk membandingkan tubuh dan roh, saat itu sering digunakan ayat Roma 8:6 “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Dengan simpelnya saat itu gw berpikiran bahwa, karena tubuh, secara fisik, tersusun dari daging, maka sifat ke-daging-an dikaitkan dengan tubuh. Saat itu, pandangan gw adalah, roh kita baik, dan tubuh kita jahat.

Beberapa tahun lalu di sebuah retreat yang gw ikutin dengan modal “ikut-ikutan temen supaya tetep eksis”, gw mendapatkan pemahaman baru tentang tubuh. Tubuh kita ini, yang kelihatan jelas ketika kita bercermin, enggak kalah pentingnya dari roh kita. “Ups, kok bisa?” begitu pemikiran spontan gw saat mendengarnya. Ia menerangkan kalau sebenarnya, tubuh kita lah telah berada bersama kita sejak kita dilahirkan, dan tubuh kita menjadi saksi terhadap semua yang kita lakukan, bahkan dosa-dosa kita yang terkecil yang sering kita tutup-tutupi dari orang lain. Dan seperti “quote” yang disampaikan Saint JP2 di pembuka artikel ini, bahkan hanya tubuh yang dapat membuat kelihatan apa yang tidak kelihatan. Tubuh kita lah yang dilihat orang lain, dan dari situlah orang lain dapat melihat apakah ada Tuhan di dalam hidup kita.

 

Teologi Tubuh

Mengapa hal itu penting buat gw?

Bagi gw, pemahaman awal mengenai tubuh ini yang akhirnya membuat gw tertarik untuk tahu lebih lanjut mengenai teologi tubuh. Dalam Teologi Tubuh diajarkan bahwa memang manusia mempunyai dorongan seksual yang dipengaruhi secara hormonal, dan kita kita pernah berdosa karena kita mempunyai dorongan tersebut, karena memang secara alami merasakannya. Yang menjadi dosa atau tidak adalah ketika kita memutuskan apa yang kita lakukan dengan dorongan tersebut.

Pemahaman mengenai tubuh juga membawa gw kepada pemahaman mengenai melihat orang lain sebagai subjek atau sebagai objek. Hal ini sangat penting karena erat kaitannya dengan relationship gw. Apakah gw memandang temen gw, pacar gw, sebagai ‘seorang pribadi’ dimana gw pengen berbagi dengannya, atau gw hanya mendekati mereka untuk kepuasan diri gw sendiri?

Pemahaman gw yang baru mengenai peran yang tidak tergantikan dari tubuh membuat gw lebih sadar akan apa yang harus gw lakukan. Karena gw tahu, pada akhirnya nanti, ketika gw kembali kepada Tuhan, Tuhan tidak akan menyalahkan gw dengan segala rekaman dosa yang Tuhan punyai tentang gw. Karena sebenarnya, tubuh gw sendiri juga sudah merekamnya. Dari sinilah gw mulai memahami juga arti kebebasan yang sebenarnya: “Freedom consists not in doing what we like, but in having the right to do what we ought.” (Saint John Paul II). (lui)