Kapan Kehidupan Dimulai?

“The greatest destroyer of peace is abortion because if a mother can kill her own child, what is left for me to kill you and you to kill me? There is nothing between.” (Mother Teresa)

Kehidupan. Menurut teman-teman, kapan sih kehidupan dimulai?

Dulu, gw sempet berpikir bahwa kehidupan dimulai saat seorang bayi lahir ke dunia. Namun, mendengar cerita tentang seorang pemuda bernama Onan dalam sebuah acara sharing dengan teman-teman Katolik membuat gw harus menarik pemikiran gw lagi, dan berpikir ulang. Kisah Onan ini juga yang merupakan asal muasal istilah Onani. Ada yang belum tahu kisah Onan?

Kisah Onan dimuat pada bagian awal kejadian 38. Singkatnya, menurut budaya Yahudi, saat itu Onan diharuskan meneruskan garis keturunan kakaknya. Dia harus ‘kawin’ dengan istri kakaknya dan diharuskan mempunyai anak. Tetapi, karena dia enggak rela, ketika ML, dia sengaja membuang maninya, yang adalah bakal kehidupan, terbuang, dan karena itulah dia mati. Tuhan tidak berkenan dengan perilakunya.

Wow. Tuhan bahkan tidak berkenan ketika seseorang dengan sengaja membuang bakal kehidupan. Seakan ada sesuatu yang menyentak hati dan pikiran gw secara bersamaan. Memang, kapan kehidupan dimulai?

Mungkin beberapa dari teman-teman di sekolah juga pernah menonton peristiwa terjadinya embrio? Seingat saya, ada di pelajaran biologi kelas 2 SMA. Mengingat tayangan itu, betapa ajaibnya si embrio berkembang dan secara otomatis membentuk satu per satu organ dan bagian tubuhnya hingga menjadi seorang bayi, dan menjadi seperti kita saat ini. Yuk berhenti sejenak dan melihat tangan, kaki, wajah, perut, dan semua bagian dari tubuh kita. Betapa ajaibnya dari embrio, sekarang sudah sebesar (atau segendut) sekarang. Jadi, kapan kehidupan dimulai?

Jika kita bertanya ke teman-teman dari berbagai kalangan, mungkin banyak perdebatan tentang kapan kehidupan dimulai. Dari teman-teman saya yang sudah jadi dokter, pun, banyak perbedaan pendapat. Ada yang berkata kalau seorang bayi sudah tidak dapat diaborsi ketika usia sekian bulan, karena sudah ada detak jantungnya. Tetapi, kalau tumbuhan saja yang ketika disirami dan bertumbuh disebut makhluk hidup, apakah embrio di dalam perut ibu bukan makhluk hidup?

Coba lihat kembali tangan, kaki, wajah, perut, dan bagian-bagian tubuh kita. Bagaimana rasanya kalau salah satu atau setiap bagian tersebut dipotong dengan paksa? Urrrggh. Membayangkannya saja sudah enek. Pasti sakitnya luar biasa. Pada kenyataannya, jika kita melihat banyak berita tentang aborsi yang terjadi di klinik aborsi di Amerika, banyak sekali aborsi dilakukan pada bayi-bayi yang bahkan sudah terbentuk tangan, kaki, kepala, dan organ-organ lainnya. Tetapi apakah berarti embrio yang belum berbentuk seperti bayi belum hidup? Apakah oma opa kita dapat dikatakan lebih hidup dibandingkan adik bayi? Lalu kenapa embrio seringkali diturunkan derajatnya dibandingkan adik bayi? Embrio itulah adik bayi, hanya masih lebih kecil dan masih berusaha untuk terus berkembang.

Dengan demikian, quote yang menurut gw cukup ekstrim di awal tulisan ini sepertinya dapat direnungkan kembali. Aborsi merupakan pembunuhan yang sama kejamnya dengan melemparkan bom kepada orang lain. Bahkan, bisa dianggap lebih kejam lagi karena seorang ibu dengan sadar, mengambil tindakan untuk membunuh bayinya sendiri.

Di luar sana, masih banyak orang yang menganggap aborsi itu biasa dan diperbolehkan. Jika kita bertemu dengan seseorang yang berpandangan seperti itu, yuk, jangan hakimi dia. Tetapi mari kita berbagi tentang kenyataan ini, bahwa saat sel sperma sudah bertemu dengan sel telur, terjadilah kehidupan. Disanalah kehidupan dimulai. Disanalah gw, lu, teman-teman lainnya, mulai ada sampai menjadi sebesar (segendut) sekarang.

 

Luisa adalah seorang wanita sekilas terlihat kalem tetapi banyak maunya. Sehari-hari, Luisa bekerja sebagai konsultan yang lumayan sering pulang malam, rutin ikut kegiatan komunitas Katolik, dan masih mencoba banyak hal baru di antaranya ikut komunitas lettering, belajar membuat cake, mengajak teman-teman mengeksplor talenta di bidang menulis, dan sedang mencoba membagi waktu untuk memulai usaha sampingan. Luisa belum mahir menulis, namun masih mau belajar untuk membagikan pengalaman dikasihi oleh Tuhan Yesus di tengah segala aktivitas yang menumpuk.