ML Sebelum Married

“It is a poverty to decide that a child must die so that you may live as you wish.” (Mother Teresa)

Kata-kata tersebut menurut gw sangat jelas dan benar maknanya. Aborsi adalah ketika seorang ibu memilih untuk membuat anaknya mati sehingga hidupnya menjadi lebih baik (setidaknya, sesuai dengan pemahamannya saat itu). Jika kita masing-masing sudah sadar akan betapa sucinya sebuah kehidupan, dan kehidupan sudah ada sejak terjadinya pembuahan, apa yang bisa kita lakukan sekarang sebagai seorang muda yang masih duduk di bangku sekolah?

Kalau teman-teman sudah SMP, atau SMA, perkiraan gw, kemungkinan besar, teman-teman sudah tahu atau sebentar lagi tahu apa sih yang namanya ‘making love’ (ML). Kalau kita nonton film-film di bioskop, kecuali film yang ratingnya Remaja, pasti hampir selalu ada bagian dimana ada adegan dua orang sedang ‘akan’ ML. Mayoritas dari cerita yang ada, setelah ML, pasti mereka digambarkan lebih senang atau bahagia.

Sangat disayangkan, kenyataannya tidak demikian. Kenapa?

Untuk mencapai ‘kebahagiaan’ tersebut, menurut ajaran Gereja, dan yang sudah terbukti dari teman-teman yang sudah menikah, ada empat syarat yang harus dipenuhi yaitu: bebas, total, setia, dan berbuah. Secara simpel dapat dijelaskan demikian: bebas – tidak ada salah satu pihak yang merasa takut atau dipaksa, total – memberikan seluruh hidup untuk yang lain, setia – dilakukan hanya dengan satu orang saja, dan berbuah – secara jasmani, dan secara rohani. (Untuk penjelasan lebih lanjut, teman-teman bisa tanya ke teman-teman atau pembimbing yang mengerti tentang Teologi Tubuh yang dipopulerkan kembali oleh Paus Yohanes Paulus II).

Singkat kata, jika dua orang ML ketika mereka belum menikah, maka mereka tidak akan bahagia secara permanen. Tentunya, 100 persen pasti, akan ada rasa takut ketika melakukannya – takut hamil, takut tidak bisa bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, dan sebagainya.

Di suatu seminar yang dibawakan oleh Jason Evert di Amerika, setelah selesai sebuah sesi, ada seorang cowok SMA datang kepadanya dan berkata, “Jason, gw sangat sayang sama cewek gw. Bahkan, gw rela mati untuk dia. Kalau misalnya hari ini ada penjahat yang menodongkan pistol di depan kepalanya, gw pasti akan menggantikan dia. Gw benar-benar rela memberikan hidup gw untuk dia. Kalau gw siap untuk memberikan hidup gw buat dia, kenapa gw nggak boleh ML sebelum menikah?”

Jason menjawab pertanyaan cowok itu demikian,”Memangnya, cewek lu kriminal sehingga ada orang mau menodongkan pistol di kepalanya hari ini? Kalau lu memang rela mati buat dia, seharusnya lu juga rela mematikan hawa nafsu lu untuk ML sama dia sebelum menikah demi hidupnya!” Dalam seminar yang disampaikan ke siswa-siswi SMA, Jason berpesan ke para cowok,”Kalau misalnya pacar lu gak mau diajak ML sebelum married, putusin aja dia! Karena dia pantas untuk mendapatkan seseorang yang lebih baik dari lu.”

Dari ngomongin aborsi, kenapa jadi ngomongin nggak boleh ML sebelum married? Karena alasan paling utama dari aborsi, seperti yang ada di pernyataan awal di artikel ini, ketika seseorang mulai berpikir hidupnya menjadi lebih baik dengan tidak adanya anak. Tentunya, kebanyakan dari orang yang berpikiran demikian adalah yang tidak siap untuk punya anak. Orang yang belum menikah, tentunya tidak siap untuk punya anak dan jika terpaksa harus punya anak, aborsi biasanya dipertimbangkan.

Jadi teman-teman, selama kita masih belum menikah, kita belum siap untuk punya anak. Bahkan banyak juga orang yang sudah menikah masih merasa ‘belum siap’. Jadi, jika mungkin kita bertemu dengan seseorang yang berpandangan bahwa ML sebelum menikah is okay, mungkin kita mulai bisa membagikan syarat yang tadi sudah disampaikan: bebas, total, setia dan berbuah. Atau, ajak dia sama-sama belajar Teologi Tubuh, ya.

 

Luisa adalah seorang wanita sekilas terlihat kalem tetapi banyak maunya. Sehari-hari, Luisa bekerja sebagai konsultan yang lumayan sering pulang malam, rutin ikut kegiatan komunitas Katolik, dan masih mencoba banyak hal baru di antaranya ikut komunitas lettering, belajar membuat cake, mengajak teman-teman mengeksplor talenta di bidang menulis, dan sedang mencoba membagi waktu untuk memulai usaha sampingan. Luisa belum mahir menulis, namun masih mau belajar untuk membagikan pengalaman dikasihi oleh Tuhan Yesus di tengah segala aktivitas yang menumpuk.