Turning Points

Di sebuah kampung, ada seorang cowok, berbadan tinggi, kulit putih, rambut lurus, tubuh cukup atletis. Ia datang dari keluarga biasa-biasa saja. Keluarganya mampu memberi makan dan menyekolahkan dia, tetapi bukan sekolah yang terlalu mahal. Intinya, keluarganya hanya mampu memberi dia modal sampai lulus kuliah. Sesudah itu, ya harus cari makan sendiri. Enggak bisa lagi minta duit dari orang tua. Dia punya mimpi jadi orang sukses. Ia tahu, sukses itu ada harganya. Ia hanya bisa mencoba sambil berdoa pada Tuhan. Ia merantau ke kota, bekerja di toko sepatu. Karena tekun dan kerjanya bagus, ia mulai bisa mengumpulkan modal untuk jualan sendiri. Ia sekarang sudah menikah, punya anak, dan tetap menjadi seorang pengusaha.

Di kampung yang sama, tidak jauh dari rumahnya, ada juga seorang cowok, berbadan tinggi, kulit putih, rambut lurus, tubuh cukup atletis. Ia datang dari keluarga biasa-biasa saja. Keluarganya mampu memberi makan dan menyekolahkan dia, tetapi bukan sekolah yang terlalu mahal. Intinya, keluarganya hanya mampu memberi dia modal sampai lulus kuliah. Sesudah itu, ya harus cari makan sendiri. Enggak bisa lagi minta duit dari orang tua. Dia punya mimpi jadi orang sukses. Ia tahu, sukses itu ada harganya. Tapi, kata orang, ada jalan pintasnya. Kalau bisa pakai cara gampang, ngapain susah-susah? Ia mulai percaya bahwa ada yang dapat memberikan dia sesuatu yang cepat dan enggak repot, tapi bukan Tuhan. Ia disuruh melakukan hal-hal aneh. Memandikan benda mati, dan sebagainya. Ia lakukan, karena ia tidak mau repot. Pada saatnya, ia akhirnya menikah juga dan punya anak. Namun, kesuksesan yang ia mau tidak kunjung tiba. Malahan sekarang keluarganya berantakan. Ia bercerai, dan anak-anaknya tidak mau sekolah. 

Dua kisah di atas adalah kisah nyata. Dan dua kisah di atas awalnya nampak serupa. Keduanya tahu tentang Tuhan. Tapi, dua turning points yang membedakan kedua cowok tersebut adalah ketika yang satu memilih untuk berharap kepada Tuhan, dan yang kedua berharap pada yang bukan Tuhan. Yang satu memilih untuk membayar harga dengan cara yang benar, yang kedua memilih untuk membayar harga instan.

Saat kita menjalani hidup sehari-hari, ada pilihan-pilihan kecil ataupun besar yang kita harus ambil. Pilihan kecil misalnya, memilih untuk damai, atau memilih untuk benci kepada orang lain. Memilih untuk belajar, atau memilih untuk menyontek. Dengan membiasakan diri memilih hal yang benar pada pilihan-pilihan kecil, kita akan terbiasa untuk juga memilih yang benar pada pilihan yang lebih besar.

Pilih yang mana?

Galatia 5:22-23, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” Jangan di-korting buah Roh-nya, misalnya, hanya mau yang menghasilkan sukacita saja. Jadi, lebih baik sukacita dengan main-main dahulu, padahal tidak ada kesetiaan untuk mau berusaha. Dan yang paling penting, berharaplah hanya pada Tuhan saja. Tuhan mana yang mampu menebus dosa kita selain Tuhan Yesus?

Luisa adalah seorang wanita sekilas terlihat kalem tetapi banyak maunya. Sehari-hari, Luisa bekerja sebagai konsultan yang lumayan sering pulang malam, rutin ikut kegiatan komunitas Katolik, dan masih mencoba banyak hal baru di antaranya ikut komunitas lettering, belajar membuat cake, mengajak teman-teman mengeksplor talenta di bidang menulis, dan sedang mencoba membagi waktu untuk memulai usaha sampingan. Luisa belum mahir menulis, namun masih mau belajar untuk membagikan pengalaman dikasihi oleh Tuhan Yesus di tengah segala aktivitas yang menumpuk.