Duc In Altum!

“Wah... sial nih, masuk jebakan batman gue!!”
Itulah kata-kata yang langsung dilontarkan seorang teman ketika dia terpilih menjadi salah satu pengurus inti OMK Wilayah di Paroki saya di Pulomas, tahun 2006 yang lalu. Memang pada saat itu, tugas yang dipercayakan tidak mudah, karena kami para pengurus ditugaskan untuk mengaktifkan kembali OMK Wilayah yang sudah 6 tahun mati suri.

Salah satu sudut pandang para sesepuh terhadap orang muda pada umumnya adalah, “Ah, mereka hanya mau main main dan menghabiskan uang saja untuk senang-senang, tanpa ada unsur rohaninya...” Ada pula yang memandang “Ah, mereka susah deh komitnya, maunya instan... Capek dikit langsung mengeluh...” Ada juga yang mengatakan “Mereka tuh nggak jelas deh, tujuannya nggak jelas, kerjaannya nggak jelas, prinsipnya juga nggak jelas...”

Jujur waktu itu gue sebagai orang muda katolik merasa terusik dengan sudut pandang yang seperti itu, dan gue ngerasa harus berbuat sesuatu untuk membuktikan bahwa orang muda itu nggak semuanya begitu. Karena orang muda yang memang jelas dan punya prinsip, dan memang punya passion untuk membawa pengaruh positif juga banyak.

And the journey begins.

Singkat cerita, dari 1 tahun pertama, akhirnya terkumpul lah orang-orang muda yang punya kegelisahan yang sama. Dan pada akhirnya dalam tiga tahun masa kepengurusan, mulai muncul kepercayaan dari para sesepuh kepada orang muda. Dan pada akhirnya beberapa dari pengurus dan anggota yang ada akhirnya aktif bukan hanya di paroki, namun juga aktif di dekenat dan di tingkat keuskupan untuk lebih banyak berkontribusi bagi pengembangan OMK di gereja kami.

Kok pada mau ya capek-capek gitu? Padahal bukan cuma capek fisik, tapi juga sering capek hati. Kena “jebakan batman” atau jangan-jangan kena hipnotis...?

Sebenarnya teman-teman bisa coba belajar dari kisah Petrus di Lukas 5:1-11, tentang menjadi penjala manusia. Waktu itu, ceritanya ketika Yesus sudah selesai mengajar di siang bolong, Petrus yang sudah sepanjang malam mencoba menangkap ikan tapi nggak dapat apa-apa, disuruh Yesus untuk “bertolak ke tempat yang lebih dalam (Duc in Altum)”. Dasar si Petrus yang memang dari kecil profesinya adalah nelayan, dalam hatinya bilang, “Aneh bener sih ini si Guru... Dia kan tukang kayu. Di mana-mana kalau nelayan nangkep ikan ya malam hari, kalau siang mana ada ikan... Secara skill nelayan gue lebih jago, jadi nggak mungkin salah nih,” pikirnya. Makanya respon Petrus, “Guru, telah sepanjang malam aku melaut dan tidak dapat apa-apa, tetapi karena Engkau yang menyuruhnya, maka aku mau melakukannya.”

Dan teman-teman tahu kelanjutan kisahnya, di mana ternyata ketika jala baru disebar, mereka langsung mendapatkan ikan yang bahkan sampai bikin jalanya mau koyak dan perahu Petrus mau tenggelam. Akhirnya dengan nggak enak hati Petrus bilang, “Pergilah dari padaku, Guru, sebab aku tidak layak.” Dan Yesus pun memberikan tugas baru kepada Petrus untuk menjadi Penjala Manusia, dan akhirnya Petrus pergi meninggalkan segala sesuatunya dan mengikuti Sang Guru.

Kita sudah sering diajak untuk lebih aktif terlibat dalam pelayanan, di lingkungan, di wilayah, maupun di paroki atau di kelompok kategorial lainnya. Cuma seringkali kita seperti Petrus yang merasa lebih mengerti “situasi” yang kita alami. Nggak ada waktu, nggak ada duit, nggak ada minat, capek, dan berbagai macam alasan lainnya.

Namun belajar dari Petrus yang memutuskan untuk taat pada Sang Guru, kalau kita juga punya hati yang taat untuk berkarya di ladang Tuhan, maka kita pun bisa (dan pasti) mengalami mukjizat kelimpahan seperti yang Petrus alami. Kelimpahan di sini tidak serta merta kelimpahan secara materi, namun kelimpahan rasa takjub, kagum, sukacita, bahagia karena mengalami sentuhan cinta Tuhan yang sungguh luar biasa, yang membuat Petrus semakin yakin dan beriman untuk mengikuti Yesus dalam karya pewartaannya.

Bertolak ke tempat yang lebih dalam sungguh membuat kita mengalami cinta Tuhan lebih dalam, yang akan membuat kita mengalami sukacita, dan kebahagiaan yang lebih dalam, yang lebih berkelimpahan, yang lebih lama.

Pertanyaannya adalah, maukah kita sebagai remaja Katolik menanggapi panggilan Tuhan dengan iman dan perbuatan kita, dan menjadikannya sebagai gaya hidup keseharian kita, sehingga bukan hanya kita sendiri yang bisa mengalami cinta Tuhan yang begitu besar, namun banyak teman-teman kita yang juga bisa ikut mengalaminya?

Mari kita bersama-sama, Duc in Altum!