Brave Heart

Berbicara mengenai ketakutan, siapa dari kita yang tidak punya rasa takut? Mulai dari takut dengan kegelapan, takut ketinggian, takut serangga, takut rugi, takut capek, takut susah, takut jujur, takut ketahuan, takut ngomong di depan, dan lain sebagainya, you name it.

Saya pun memiliki rasa takut...

Sebenarnya, pada mulanya Tuhan menciptakan rasa takut baik adanya, di mana fungsi rasa takut pada diri seseorang bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap suatu ancaman tertentu, sehingga kita dapat melakukan sesuatu untuk mengantisipasi ancaman tersebut.

Namun, seiring dengan pengalaman hidup yang bertambah, kegagalan dan kesakitan yang mungkin pernah kita alami, atau informasi yang salah mengenai sesuatu, memunculkan rasa khawatir di dalam diri kita, bahkan mungkin hingga ke tingkat trauma yang sedemikiannya, sehingga membuat kita "lambat" dan cenderung tidak bergerak, bahkan "lumpuh", untuk mencoba dan mencoba lagi.

Ada suatu ungkapan yang menarik mengenai ketakutan. Dalam bahasa inggris, ketakutan itu adalah FEAR, yang merupakan singkatan dari "False Expectation Appearing Real" - suatu pengandaian yang keliru, yang seakan-akan tampak sangat nyata. Padahal menurut sebuah penelitian, 96% dari apa yang dikhawatirkan / ditakuti seseorang tidak pernah terjadi. Alangkah sangat disayangkan bahwa ketakutan dan kekhawatiran yang 96% tidak terjadi itu melumpuhkan kita sehingga membuat kita hanya bisa menghasilkan 0% alias tidak menghasilkan apa-apa, stuck dan tidak bertumbuh maju.

Sebagai remaja katolik, kita telah diangkat menjadi anak oleh Allah melalui rahmat pembaptisan yang telah kita terima, sehingga kita dapat memanggilnya Bapa. Rahmat dan "fasilitas khusus" itu diikuti oleh konsekuensi dan tanggungjawab pula, di mana dengan menjadi anak Allah, kita harus berani dan mengambil keputusan untuk memiliki kualitas diri seperti anak Allah, yang berani melakukan kehendak Bapa di surga.

Pertanyaannya adalah, apa yang Bapa kehendaki terhadap diri kita? Bapa ingin agar kita sungguh beroleh kebahagiaan dan keselamatan, sehingga kita dapat mengalami kasih yang begitu besar dan berkelimpahan, yang menghantar kita pada kehidupan dan kedamaian yang kekal di surga. Oleh karena itu, Bapa berinisiatif untuk senantiasa mendampingi kita melalui Roh Kudus yang ada di dalam hati kita, dalam proses yang kita jalani untuk mencapai kemurnian hati seperti hati Bapa. Karena dari hati yang murni, sungguh terpancar segala sesuatu yang baik, seperti kedamaian, sukacita, rasa syukur,

cinta sejati, dan termasuk di dalamnya keberanian untuk mengutamakan kebenaran dan kasih di dalam hidup kita sehari-hari.

Maukah kita percaya akan penyertaan Allah melalui Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus Kristus, untuk berani mengutamakan kebenaran dan kasih di dalam kehidupan kita sehari-hari, baik dalam tindakan, ucapan, pikiran, bahkan niat yang ada di dalam hati kita?

Beranikah kita untuk selalu jujur dalam ucapan dan tindakan?

Beranikah kita lebih terlibat untuk melayani Tuhan di komunitas atau gereja, walaupun ada resiko capek, dicuekin, dan nggak dapat apa-apa?

Beranikah kita untuk mendoakan dan memaafkan orang yang telah menyakiti kita?

Sebagai penutup, saya hendak memberikan satu ungkapan anonim tentang keberanian, "Courage is not an absence of fear, instead it is a mastery of fear" - keberanian bukanlah suatu situasi tanpa adanya rasa takut, namun keberanian adalah penguasaan terhadap rasa takut.

Oleh karena itu, berbahagialah kita yang oleh karena kuasa Roh Kudus yang sudah ada di dalam diri kita, sungguh dapat dibebaskan dari rasa takut, dan menjadi anak Allah yang berani berbeda dengan melawan arus dunia ini, untuk mengutamakan kebenaran dan kasih! Amin.