Cracking The Code, Unleashing You

Cracking the Code, Unleashing You

Pada masa SMP, saya memiliki pengalaman dipalak. Sungguh menyebalkan, ketika sepeda yang baru dibelikan seminggu sebelumnya, dan jam tangan yang dipakai baru bernyawa dua minggu, harus diambil dengan paksa oleh si pemalak. Namun memang sudah sepantasnya, ternyata si pemalak dan temannya tertangkap oleh hansip yang bertugas dan langsung diproses ke kantor polsek terdekat.

Pada saat saya dipanggil untuk dimintai keterangan oleh pak polisi yang bertugas, saya ditanyai berbagai macam pertanyaan untuk menceritakan urut-urutan kejadiannya secara tereperinci, mulai dari waktu dan lokasi kejadian, suasana lokasi pada saat itu, siapa yang sedang bersama saya, apa yang dikatakan dan dilakukan oleh si pemalak, hingga pada akhirnya si pemalak membawa sepeda dan jam tangan saya. Semuanya ditanyakan begitu detil, begitu terperinci, karena si pak polisi berusaha mencari fakta dari kejadian itu untuk memproses si pemalak secara hukum.

Lain hal nya ketika saya sampai di rumah. Ketika itu ibu saya menanyakan kejadiannya bagaimana sampai saya bisa dipalak dengan sedemikiannya, sehingga kesimpulan akhir yang muncul adalah bukan soal fakta detil dari kejadian ketika saya dipalak, namun ungkapan rasa syukur kepada Tuhan bahwa saya masih selamat tidak terluka sedikitpun, serta memperoleh pembelajaran agar untuk waktu mendatang saya harus lebih berhati-hati. Sungguh menarik bahwa dalam satu kejadian yang sama, cara bertanya dan bercerita yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan dan tindaklanjut yang berbeda pula.

Mari kita coba lihat sekarang bagaimana kisah maupun peristiwa yang ada di Kitab Suci. Teman-teman akan menemukan banyak sekali kisah maupun peristiwa yang sangat menarik di Kitab Suci. Pertanyaannya adalah, bagaimanakah agar saya bisa mulai membaca Kitab Suci, dan juga memahaminya?

Perlu teman-teman ketahui, bahwa Kitab Suci itu bukanlah buku ilmu pengetahuan, bukanlah buku ilmu sosial, ataupun buku sejarah. Kitab suci adalah buku iman. Oleh sebab itu, kita pun harus membacanya dengan kacamata iman, bukan dengan kacamata ilmu pengetahuan, kacamata ilmu sosial, apalagi kacamata ilmu sejarah. Sebagai ilustrasi, sama seperti jika teman-teman membaca buku pendidikan moral dengan kacamata bisnis, pasti akan mengalami kebingungan, karena terjadi benturan-benturan paham yang mungkin bisa saling bertabrakan.

Lantas, bagaimana caranya supaya kita bisa membaca Kitab Suci dengan kacamata iman? Hal yang paling mudah untuk dilakukan adalah, bahwa pada saat kita membaca suatu teks kitab suci, selalu fokuskan hati dan pikiran teman-teman dengan pertanyaan, “Apa pesan iman yang hendak disampaikan Tuhan kepada saya melalui teks ini?”

Memang betul, bahwa ada teks kitab yang “mudah” untuk dibaca, dan ada juga teks kitab yang “sulit” untuk dibaca, sehingga membutuhkan pengetahuan umum tentang Kitab Suci untuk membantu kita dalam memahami pesan iman yang hendak disampaikan oleh teks Kitab Suci itu kepada kita. Namun jika kita sungguh sungguh membuka hati dan pikiran kita terhadap sapaan Tuhan melalui teks Kitab Suci ini, kita dapat sungguh mengalami Tuhan langsung secara pribadi.

Saya akan share mengapa “secara pribadi” ini sangat powerful.
Coba bayangkan seorang Warren Buffet, atau seorang Mark Zuckenberg, atau seorang Hugh Jackman yang sungguh kaya dan terkenal menyapa kita secara personal, seperti teman dekat yang sungguh peduli dengan setiap permasalahan yang sedang kita hadapi. Sudah tentu kita sangat senang, bangga, dan merasa excited karena pengalaman seumur hidup, belum tentu dua kali.

Namun Tuhan yang menyapa kita secara pribadi melalui sabda-Nya di Kitab Suci, jauh melampaui segala kekuatan, kekayaan, kekuasaan, keagungan yang dapat kita bayangkan. Sungguh sapaan yang diberikan kepada kita yang sedang menghadapi pergumulan yang ada, mempunyai daya kekuatan yang luar biasa untuk mengubah hidup kita, setiap hari.

Oleh karena itu, bersediakah teman-teman membuka pintu hati teman-teman terhadap sapaan Tuhan melalui Kitab Suci? Karena, sesungguhnya ketika hati dan pikiran teman-teman terbuka, maka hidup teman-teman akan sungguh diubah/diperbaharui dan menjadi saksi yang hidup akan cinta Tuhan.

The Code had been cracked; The Word become Flesh;
Unleashing You, to become today’s living Word;