Dancing In The Storm

Suatu hari di musim hujan beberapa bulan yang lalu,  saya sedang nyetir sendirian. Saat itu langit penuh dengan awan gelap, dan hembusan angin menderu seperti mau memperingatkan bahaya yang mengancam. Ada banyak pohon yang tumbang, dan bahkan ada beberapa billboard iklan besar yang berjatuhan sehingga jalanan menjadi macet luar biasa. Di jalan tol terjadi beberapa kecelakaan, dan di beberapa daerah, genangan air mencapai setinggi ban mobil. Gosip di Twitter mulai beredar… Jakarta siaga 1, siap-siap banjir besar! Bahkan sebuah posting-an di FB mengatakan bahwa parkir basement sebuah gedung di kawasan Sudirman telah menelan korban. Yes, heavy storm is coming. Gerimis kecil yang biasanya membuat hati agak mellow telah berubah menjadi hujan badai yang mengerikan.

Di tengah macet dan suara hujan deras, sayup-sayup terdengar dari CD di mobil saya “…And I don't know why but with you I'd dance in a storm in my best dress… Fearless” Begitu kata Taylor Swift di lagunya “Fearless”, yang juga menjadi judul tournya di tahun 2010. Bayangkan, di tengah badai yang mengerikan (pernah lihat foto-foto badai di Amrik?), Taylor Swift bilang ia bukan saja dance, tapi dance dengan best dress dan tanpa rasa takut sama sekali. Orang gila? Mungkin. Tapi mungkin juga tidak, karena sebetulnya ada orang lain yang benar-benar pernah berjalan di tengah badai, bahkan berjalan di atas air dan memerintahkan badai itu untuk reda – dan badaipun tunduk pada perintah ini.

Yup, I’m talking about Jesus.

Ceritanya suatu hari Yesus dan para murid sedang berada dalam sebuah perahu di sebuah danau.  Tiba-tiba mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air (bdk. Markus 4:37). Sementara itu, Yesus sedang tenang-tenang tidur di buritan, dan para muridpun semakin panik. Mereka akhirnya membangunkan Yesus dan berkata, "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" Yesus-pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu, "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali (bdk. Markus 4:39).

Tidak hanya sekali Yesus dan murid-murid-Nya berhadapan dengan situasi menakutkan seperti itu. Di kesempatan badai yang lain, Yesus bahkan tidak perlu menghardik (bdk. Matius 14:22-33). Waktu itu perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu, saya pernah naik perahu dari pulau Lombok ke pulau Gili Trawangan, dengan gelombang yang lumayan membuat hati ini bergetar. Waktu itu langit sebetulnya cukup cerah karena hari masih sore, tapi hembusan anginnya membuat saya berdoa Salam Maria lebih serius. Rencananya memang mau jalan-jalan di Gili Trawangan, tapi ombak yang tinggi membuat liburan ini harus diawali dengan hati yang teguh dan doa yang kuat.

Anyway, back to Jesus – waktu itu murid-murid di perahu sekitar jam 3 pagi, dan saya yakin anginnya pasti lebih cihuy daripada angin sore di sekitar pulau Lombok, apalagi suasana gelap hanya dengan sedikit cahaya bulan. Di tengah gelombang dan deru angin, tiba-tiba tampaklah seseorang berjalan di atas air. Para murid ketakutan. Bayangkan, di bawah gelapnya langit, di tengah hembusan angin yang mengerikan, dan dari atas perahu yang terombang-ambing, tampaklah sesosok bayangan manusia yang berjalan di atas air. Sosok itu semakin mendekat, dan para murid semakin takut sebab mereka pikir itu hantu. Apa yang harus dilakukan? Di tengah kepanikan, sosok itu berkata, “Jangan takut… ini Aku.” Petrus mengenali itu suara Yesus, tapi ia ragu. Maka Petrus pun berkata, “Bila Engkau sungguh Tuhan, suruhlah aku berjalan kepada-Mu di atas air juga.” Dan Yesus menjawab, “Datanglah.” Murid-murid yang lain diam, tidak berani mengatakan apa-apa. Hati mereka bergetar oleh badai, tapi berharap-harap cemas akan sosok yang berjalan di atas air itu.

Namun Petrus berani mengambil resiko. Ia takut, tapi ia percaya itu Tuhan yang memanggilnya. Maka sambil menguatkan hati, Petrus – sang nelayan sejati yang tahu apa artinya keluar dari perahu di tengah badai, memandang kepada Yesus, melangkahkan kakinya keluar dari perahu, dan mujizat-pun terjadi. Kakinya berpijak pada permukaan air danau, dan ia mulai berjalan mendekati Yesus. Para murid terkejut, Petrus pastinya paling terkejut, tapi Yesus hanya tersenyum. Welcome to fearless faith! Sambil berjalan di atas air, Petrus mulai memandang kepada gelombang yang besar di sekitarnya, dan hempasan angin mulai menggetarkan hatinya. Waktu ia mulai mengalihkan pandangannya dari Yesus, ia mulai tenggelam. “Tuhan, tolong…” serunya, dan Yesus-pun mengulurkan tanganNya meraih Petrus, dan bersama-sama mereka naik ke dalam perahu. Lalu, badaipun redalah.

Di tengah kemacetan Jakarta, dan di sela-sela suara Taylor Swift, saya belajar 3 hal:

  1. Saya perlu kenal Yesus - tidak sekadar tahu nama-Nya, tapi kenal pribadi-Nya dan kenal suara-Nya. Apa yang saya pikir hantu atau ancaman, bisa jadi sebetulnya Tuhan yang sedang datang menolong saya.
  2. Tuhan Yesus sanggup meredakan badai apapun dalam hidup saya. Hari ini apapun masalah yang saya hadapi, saya tahu pasti bahwa bersama Yesus pasti ada ketenangan. Dia tinggal perintahkan, atau bahkan Dia tinggal melangkah masuk ke dalam perahu hidup saya, dan Dia sanggup membuat semuanya menjadi baik.
  3. Kadang-kadang Tuhan mengundang saya untuk melangkah dalam iman – berjalan di atas air. Apa yang kelihatannya mustahil bagi manusia, Tuhan Yesus akan memampukan saya untuk melakukannya bersama Dia. Maka, hati dan hidup saya tidak boleh terarah pada badai, tapi harus terus terarah pada Yesus yang menolong dan memberkati saya.

Lagunya sudah habis, tapi saya masih ada di tengah macet. Hujan masih turun dengan derasnya, dan pohon-pohon masih melambai diterpa angin – tapi hati saya begitu penuh sukacita. Saya tahu pasti, di balik badai ini, ada Yesus yang sedang mengundang kita semua untuk percaya kepada-Nya.

Jangan pernah takut akan apapun juga, sebab bersama Yesus, kita semua pasti bisa melewati setiap badai - dan bahkan berjalan di atas air, untuk menjadi kesaksian bahwa anak-anak Tuhan pasti ditolong, pasti dijaga, dan pasti diberkati oleh kasih-Nya. Rasanya saya ingin keluar dari mobil, berlari ke tengah-tengah jalanan sambil bernyanyi “…With You I’d dance in a storm, in my best dress… fearless!” Tapi nggak jadi, takut ditangkap polisi.