FREEDOM

Apa sih “bebas” itu? Saya mengetikkan keyword “define:freedom” di mesin pencari google dan mendapatkan definisi ini: “Freedom: The power or right to act, speak, or think as one wants without hindrance or restraint” – kekuasaan atau hak untuk berbuat, berkata, atau berpikir seperti yang seseorang mau tanpa adanya halangan atau pengendalian. Bagaimana menurutmu? Setuju? Tidak? Ragu-ragu? Saya mau menceritakan 2 kisah saya: versi 1 dan versi 2.

Versi 1

**Waktu itu hari Minggu, dan orang tua saya pergi seharian ke luar rumah. Hari itu, saya tidak ada rencana khusus. “Di rumah aja deh hari ini, nonton film favorit saya di internet ah. Kapan lagi bisa bebas di rumah,” pikir saya pagi itu. Tertawa-tawa sendiri nonton reality show kesukaan saya adalah salah satu cara refreshing saya.

Jam setengah 12 siang, selesai satu episode. Makanan sudah di meja, disiapkan oleh nyokap tadi pagi. Sambil makan daripada bengong, mending sambil nonton episode berikutnya. Sudah selesai makan, film belum habis. Tapi saya nggak bisa berhenti karena film yang bagus itu kayaknya bikin saya pengen nonton lagi dan lagi. Nggak apalah, kan saya bebas, iya nggak?

 Jam setengah 2 siang, selesai episode berikutnya, saya tidur siang satu setengah jam. Jam 3 sore mulai mikir, ”Waduh tadi cuplikan episode selanjutnya kayaknya seru tuh, mesti nonton lagi nih.” Jam 7 malam ortu pulang, saya masih mejeng di depan laptop. Tahu-tahu saja hari sudah malam. Makan malam bareng ortu, lalu masuk kamar, kamar masih berantakan. Padahal sebenarnya dari kemarin-kemarin saya pengen lho beresin kamar dan latihan keyboard. Tapi baru inget. Gagal deh beresin kamar, gagal juga latihan keyboard. Nontoooon aja kerjaannya seharian.**

Versi 2

**Waktu itu hari Minggu, dan orang tua saya pergi seharian ke luar rumah. Hari itu, saya tidak ada rencana khusus. “Di rumah aja deh hari ini, nonton reality show kesukaan saya di internet dulu ah. Kapan lagi bisa bebas di rumah,” pikir saya pagi itu. Tertawa-tawa sendiri nonton reality show kesukaan saya adalah salah satu cara refreshing saya.

Jam setengah 12 siang, selesai satu episode. Makanan sudah di meja, disiapkan sama nyokap tadi pagi. Sambil makan daripada bengong, mending sambil nonton episode berikutnya. Iya kan? Sudah selesai makan, film belum habis. “Sudah cukup lah,” bisik hati saya, ”masih banyak hal menyenangkan lainnya.”

Sudah lama saya ingin latihan keyboard untuk mengiringi musik rohani. Saya cari lagu kesukaan saya, dan saya nyanyi-nyanyi sendiri. Sehabis itu ketika membereskan kamar, saya menemukan foto-foto waktu saya kecil. Bernostalgia, sambil lanjut membereskan kamar. Jam 7 malam ortu pulang, saya cerita-cerita sama mereka. Masuk kamar, kamar sudah rapi. Sudah latihan keyboard, sudah beresin kamar, sudah nonton. Asyiknya hari ini! Bebas melakukan banyak hal yang saya pengen lakukan sejak lama.

Refleksi Malam

Kembali ke kebebasan. Dari pengalaman nyata yang saya alami, menurut teman-teman, di cerita Versi 1 – apakah saya bebas? Sesuai hasil pencarian di Google tadi, saya harusnya seorang yang bebas. Saya berbuat sekehendak saya, tidak ada yang menghalangi saya, dan saya juga tidak mengendalikan diri saya – menuruti saja keinginan saya untuk menonton show-show kesukaan saya. Tapi kalau saya renungkan lagi, saya rasanya enggak bebas deh. Saya merasa dituntut untuk nonton dan lanjut nonton, walaupun sebenar-benarnya hati saya ingin lho melakukan ini dan itu, yang baru saya sadari malam hari itu.

Sebaliknya di Versi 2, saya mengikuti bisikan hati saya yang berkata, ”sudah cukup.” Saya mengendalikan diri saya. Kalau menurut definisi di awal, seharusnya saya tidak bebas. Tetapi di akhir harinya saya merasa jauh lebih bebas.

Teman-teman, kalau kita lagi susaaah untuk berhenti melakukan sesuatu dan dengar hati kecil kita bicara, stop dulu. Stop, detik itu juga. Detik itu. Karena di situlah kita bebas memilih untuk berhenti. Karena sebenarnya, bebas itu adalah kuasa untuk menginginkan dan memilih apa yang baik. Di akhir hari, coba renungkan lagi, “Apa yang sudah saya kerjakan hari ini?” Karena kalau kita berhasil untuk memilih apa yang baik hari itu, tidak akan ada rasa penyesalan yang muncul sedikit pun.

Galatia 5:1 “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Saya berdoa semoga saya dan teman-teman selalu bisa bebas karena kekuatan dari-Nya, untuk memilih apa yang baik – yang sesungguhnya kita sadari dari bisikan hati kita yang paling dalam, tidak lagi menjadi hamba – bahkan dari film kesukaan saya yang membujuk saya untuk menontonnya terus lagi dan lagi dan malah akhirnya membuat saya menyesal di penghujung hari itu. Jesus loves you and me. (lui)