It’s Awesome!

Siapa tidak kenal dengan Nick Vujicic, seorang motivator luar biasa yang lahir tanpa 2 tangan dan 2 kaki.  Atau sebut saja Tony Meléndez, seorang pemain gitar luar biasa tanpa 2 tangan. Atau mungkin Lizzie Velásquez, seorang motivator luar biasa yang lahir tanpa jaringan lemak, sehingga terlihat seperti tengkorak berjalan.

Coba teman-teman bayangkan jika seandainya teman-teman berada pada posisi di mana teman-teman dilahirkan dengan kecacatan demikian.  Bayangkan pergumulan yang dialami, baik dari aktivitas fisik yang sangat terbatas, maupun pada aktivitas sosial yang sangat mungkin mengalami pengucilan, bahkan bully.  Hal ini bukan saja berpengaruh secara fisik, namun terlebih secara psikologis, pikiran, maupun mental.  Sungguh berat pergumulan yang dihadapi.

Namun, bagaimana ketiga tokoh tersebut menyikapi pergumulan mereka, sehingga mereka justru memancar dan bersinar menjadi berkat bagi banyak orang, dari ketidaksempurnaan yang mereka miliki?  Jawabannya adalah: bersyukur.

 “Haaah, bersyukur??!!  Kalau gue sih udah komplain, bersungut-sungut, atau jangan jangan udah mau bunuh diri kali yah?? Kok bisa...??” 

“Kalau nggak ada masalah sih gampang buat bersyukur... Apalagi kalau lagi ketiban rejeki...Lha, tapi kalau lagi riweh, susah bener bersyukur jek...”

Mungkin begitulah reaksi spontan yang banyak dilontarkan oleh orang pada umumnya. Namun apa yang membedakan mereka dari orang pada umumnya, sehingga mereka bisa memberkati dan memberikan inspirasi kepada banyak orang adalah rasa syukur yang genuine yang ada di dalam hati mereka.

Mampu bersyukur merupakan suatu rahmat yang kita terima dari Tuhan, karena Tuhanlah yang memampukan mata hati kita untuk melihat dengan iman, bahwa banyak hal yang kita miliki saat ini (baik harta, kepintaran, kesehatan, kesempatan, pekerjaan, pelayanan, talenta, orang tua, teman dan sahabat, dan lain sebagainya), merupakan milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita, karena kemurahan hati Tuhan kepada kita. 

Sedangkan lawan dari bersyukur adalah bersungut-sungut, sering mengeluh, mudah kecewa, sensitif, mudah dongkol dan iri hati.  Mengapa seseorang mudah mengeluh? Karena ada suatu perasaan tidak nyaman, atau sesuatu yang tidak bisa diterima karena merasa dirugikan karena merasa apa yang menjadi haknya, terganggu, terancam, ataupun hilang.

Jadi, hal yang membedakan seseorang yang bersyukur dan bersungut-sungut adalah pada fokusnya.  Orang yang mudah mengeluh berfokus kepada dirinya sendiri, dan cenderung dan menganggap apa yang ada padanya merupakan hasil jerih payahnya sendiri, dan memiliki kecenderungan untuk menuntut segala sesuatunya demi kepentingan dan kepuasan dirinya sendiri, apa yang belum saya punya, apa yang belum saya peroleh, apa yang seharusnya saya miliki. 

Sedangkan orang yang mudah bersyukur adalah orang yang berfokus pada rahmat Tuhan, dan menganggap banyak hal baik yang ada padanya semata-mata merupakan kemurahan Tuhan yang diterimanya, apa yang sudah ada pada saya, apa yang sudah saya peroleh, apa yang sudah saya terima walaupun saya tidak pantas dan tidak layak untuk menerimanya.  Sehingga sebagai “akibat”nya, orang yang memiliki rasa syukur, pastilah orang yang murah hati dan memiliki semangat berbagi.

Teman-teman, satu hal yang paling berharga yang telah kita terima adalah cinta Tuhan yang sungguh luar biasa kepada kita, sehingga Ia rela mati menyerahkan diri-Nya sendiri bagi kita manusia yang berdosa, untuk menyelamatkan kita semua.  Tiada hal lain yang lebih berharga dari cinta seorang sahabat yang rela mati untuk kita.

Bukankah kita telah menerima rahmat dan cinta Tuhan yang luar biasa, secara cuma-cuma, namun amat berharga, sehingga kita sungguh pantas dan layak untuk mensyukurinya?  Dan bukankah sudah sepantasnya kita mengungkapkan rasa syukur itu dengan ucapan dan tindakan yang nyata dengan membagikan rahmat dan cinta yang sungguh telah kita terima kepada orang-orang di sekitar kita?

Mari bersyukur selalu dan menjadi berkat bagi lebih banyak orang, because it’s awesome!