GIVE THANKS

Pagi ini di dalam mobil, CD lagu yang saya putar melantunkan lagu ini, “Seringkali ku datang Tuhan, hanya karna sejuta keluhan, seringkali ku lupa Tuhan, seharusnya kudatang.. dengan segenap rindu dari lubuk hatiku … tak hanya memikirkan berkat yang Kau berikan, namun sungguh karna ku mengasihiMu, Yesus.” – kira-kira demikianlah sebagian dari isi lagu tersebut.

Pertama kalinya saya mendengar lagu tersebut di kuliah, saya langsung tersentuh dan menangis. Betapa sering saya datang pada Tuhan hanya untuk mengeluh, protes, dan meminta. Pagi ini ketika lagu tersebut mengalun lagi, sama halnya yang saya rasakan, karena sekarang pun sedang sangat sulit rasanya untuk bersyukur.

Saat-saat seperti itu, saya punya obat manjur yang kadang malah terlupakan: mengingat masa-masa kritis yang saya hadapi di mana Tuhan ada di sana berkarya untuk saya.

Suatu kali di dalam pengalaman saya, saya pernah tinggal di luar negeri sendirian. Saya ikut sebuah program homestay saat itu dan tiba-tiba, karena suatu hal yang saya tidak pernah duga sama sekali sebelumnya, dalam satu malam – saya harus packing dan mencari tempat tinggal yang baru keesokan paginya – hanya dalam beberapa jam saja.

Saya sangat kaget, shock, kelimpungan rasanya saat itu. Mau menangis, pun, tidak ada kesempatan untuk menangis, karena waktu saya hanya beberapa jam untuk memutuskan langkah saya di esok paginya – sekitar 3 jam sebelum saya harus tidur karena sekolah di keesokan paginya.

Saya waktu itu refleks langsung berkata – seakan-akan Tuhan ada secara fisik di depan saya, “Tuhan, apa yang harus saya lakukan???” Karena tidak mungkin saya menangis dan menelpon orang tua saya yang jauh untuk meminta mereka membantu saya detik itu juga. Mereka ada di belahan dunia yang berbeda.

Waktu itu saya mendapat dorongan untuk mengirimkan pesan ke salah satu teman saya di kelas, harap-harap cemas ia akan membalas segera karena ia harus kerja part time sampai sekitar jam 10 malam. Puji Tuhan saat itu – di saat-saat kritis saya – dia langsung membalas pesan saya – dan tanpa diduga, teman yang baru saya kenal selama 2 minggu terakhir itu – menawari saya menginap sementara di tempatnya selagi saya mencari alternatif tempat tinggal yang baru.

Ya, Tuhan bekerja. Tuhan ada di sana saat itu. Tuhan membisikkan ke teman saya waktu itu – yang bahkan tidak mempunyai agama – untuk menolong saya.

Tuhan bisa saja diam – tidak melakukan apa-apa. Tetapi tidak pernah. Baik saat itu, maupun saat ini. Dia ada bersama kita – membukakan jalan bagi kita – bahkan jalan yang belum terpikirkan dalam logika kita.

1 Tesalonika 5:16-18: “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Saat ini juga, detik ini, marilah kita berbisik pada-Nya dalam hati, “Terima kasih, Tuhan.”