Holy Day Is Freedom

Liburan adalah momen yang sangat menyenangkan, karena bagi saya liburan berarti “kebebasan”. Bebas dari segala rutinitas harian yang membosankan dan tanggung jawab sehari-hari yang harus dipikul. Saat ini saya bekerja sebagai pedagang, sehingga hari libur sungguh benar-benar berharga bagi saya karena biasanya akhir pekan justru adalah momen bagi saya untuk mengejar omset. Jadi jika sedang libur rasanya saya hanya ingin bersantai dan tidak mau terbebani untuk berpikir hal-hal yang berat, apalagi berhubungan dengan pekerjaan.

Namun ternyata liburan juga bisa membosankan. Apalagi jika kita hanya di rumah saja tidur, bangun hanya untuk makan dan mandi, lalu tidur lagi. Biasanya kalau sudah seperti itu saya main game, nonton DVD, berolahraga, hangout ke-Mall, makan, nonton, karaoke, nonton lagi, dll. Pokoknya liburan diisi dengan berbagai macam hiburan yang dapat menyenangkan hati, perut, hingga mata (Hehe). Jadi  seumpamanya sehari-hari tubuh ini digunakan untuk bekerja, maka ketika liburan tubuh ini layak untuk dimanjakan. Dan ketika waktu liburan sudah hampir habis, timbullah keluh-keluhan karena belum puas berlibur. Rasanya seperti harus kembali lagi memikul beban kehidupan yang begitu berat.

Waktu pun berlalu, tahun demi tahun berganti, namun selalu seperti itu. Waktu masih sekolah , ada banyak PR, Tugas, Ulangan, Kerja kelompok, dll. Ketika sudah kerja, laporan harian, mingguan, bulanan, tahunan, masalah ini itu, dan semua tanggung jawab yang harus dipikul. Dan waktu liburan selalu dinanti-nanti.

Namun kali ini berbeda, saya tidak terlalu menantikannya, malah bingung “mau ngapain” liburan kali ini. Liburan kali ini terasa biasa saja bagi saya, hanya perbedaannya saya tidak bekerja. Mungkin karena saya juga sudah bosan dengan segala rutinitas setiap kali liburan. Lalu ketika saya sedang berpikir tiba-tiba terlintas dalam benak saya kata “holiday’, yang dalam bahasa inggris berarti “hari libur”. Ternyata dari asal katanya yaitu “Holy”, yang berarti “Kudus”, dan “Day” yang berarti “Hari”, maka liburan dapat dikatakan juga sebagai hari yang kudus.

Saya pun teringat pada kitab kejadian ketika Tuhan menciptakan bumi dan seluruh isinya, Tuhan beristirahat pada hari ke-7 dan menguduskannya sebagai hari Tuhan. Dalam permenungan saya baru menyadari bahwa hari libur mempunyai makna yang lebih dalam dari sekadar kebebasan dari tanggung jawab sehari-hari. Biasanya hari minggu saya tetap bekerja, namun selalu berusaha menyempatkan untuk pergi merayakan misa dan menyambut Ekaristi di gereja.  Jika tidak mengikuti misa sepertinya ada sesuatu yang terlewatkan dan hari-hari berikutnya seperti ada yang kurang.

Pada waktu misa selalu ada rasa damai, apalagi ketika sebelum menerima komuni selalu di katakan, “Datanglah kepadaku yang letih, lesu, dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu.” Rasanya seperti semua beban kehidupan terangkat dan setelah itu semua pekerjaan jadi lebih ringan. Tuhan adalah sumber kehidupan yang menyegarkan jiwa kita dan membebaskan kita dari segala keterikatan akan dosa. Memang saya merasa perjuangan untuk mencapai kekudusan masih butuh banyak sekali proses. Namun dengan berusaha untuk hidup dekat dengan Tuhan, sudah memberikan kebebasan dari rasa takut dan khawatir akan masa depan, penyembuhan atas luka-luka di masa lalu, dan kekuatan untuk melangkah di saat ini.

Maka saya akhiri permenungan sebelum liburan kali ini dengan ajakan untuk meng-“Kudus”-kan setiap hari yang kita lalui bagi Tuhan supaya kita menjadi manusia yang sungguh-sungguh bebas.