Let’s Break Free!

Pada suatu weekend beberapa bulan yang lalu, saya berjumpa dengan seorang teman lama yang sudah cukup lama tidak bersua.  Secara posisi pekerjaan, bisa dibilang dia sangat sukses di usianya yang masih muda, karena dari sisi penghasilan, jabatan, pergaulan, sudah berada pada posisi kaum elite.  Dengan kemandiriannya itu, dan teman-teman yang  juga the have itu, ia sangat bebas melakukan apa saja yang ia mau.  Teman saya ini datang dari keluarga yang sangat baik, dan tidak ikut-ikutan teman-temannya menggunakan narkoba, minum minuman keras, maupun berjudi.  Namun, dengan modal tampang yang lumayan ganteng, sebagai cowok yang sudah mempunyai “power”, akhirnya ia masuk ke dunia free-sex.  Mungkin kalau menurut orang awam, situasi yang demikian sudah dianggap seperti “on earth as it is in heaven”, di mana ia bisa memiliki dan menikmati apa yang ia mau, sebebas-bebasnya.

Pertanyaannya, is it really a freedom? Is it really as it is in heaven? Mungkin saja, sampai ada satu kejadian yang paling menakutkan terjadi dalam hidupnya.  Ya, dalam kondisi yang sudah bertunangan, ia melakukan hubungan sex dengan istri orang lain, dan akhirnya berujung pada potensi kehamilan.  Mungkin hal ini bisa saja terlihat sangat biasa, karena memang sudah resikonya free-sex adalah kehamilan yang tidak dikehendaki.  Namun ketika teman saya ini menceritakan bagaimana pergumulan yang ia hadapi saat itu juga, hingga selama 3 minggu setelahnya, saya bisa menyimpulkan bahwa hidup yang ia jalani pada masa itu sungguh penuh dengan rasa takut, paranoia, rasa cemas, khawatir, dan stress tingkat tinggi yang membuat konsentrasinya pada pekerjaan menjadi buyar.

“Gimana kalau nanti pas gue udah sama anak dan istri gue, udah harmonis gitu, tiba-tiba ada anak nanggung yang manggil gue: papa..!!.  Gile man, mampus banget deh gue, ancur bener deh, ngeri gue man”.

Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan kisah ko Ahok yang beberapa waktu belakangan ini dengan berani bertindak melakukan pembenahan di ibukota Jakarta, dengan tanpa kenal takut, bahkan siap menghantar nyawanya sendiri demi penegakan kebenaran dan membela kepentingan rakyat, tanpa mengharapkan imbalan tertentu, dan bahkan mempasrahkan kepada Tuhan hidup keluarga yang dicintainya dari teror yang mungkin dilakukan oleh oknum yang merasa dirugikan.  Sebagai akibatnya, warga Jakarta yang semula mungkin bersikap sinis dan skeptis pada potensi kinerja Jokowi-Ahok, sekarang berbalik mendukung dan membela mereka karena karya nyatanya yang membawa perubahan positif bagi warga Jakarta.

Jadi, apakah itu kebebasan yang sejati?

Ternyata, kebebasan menjadi sungguh sejati bilamana fokus dari kebebasan itu adalah untuk memberi, bukan untuk merampas.  Kebebasan untuk mengambil tanggungjawab, bukan untuk melempar tanggungjawab.  Kebebasan untuk berkarya, bukan untuk mengambil.  Kebebasan untuk melakukan suatu yang bernilai positif, bukan kebebasan untuk merusak.  Kebebasan di mana seseorang dapat memberikan keseluruhan diri dan hidupnya demi sesuatu yang sangat bernilai bagi banyak orang.

Dan ternyata, ketika seseorang memiliki kebebasan yang sungguh sejati, maka hidupnya tidak akan dikendalikan lagi oleh suatu ikatan-ikatan dan ketakutan tertentu.  Sebagai contoh, seseorang yang tidak memiliki intensi untuk mencuri, tidak akan risau dan khawatir jika diberi hukum/peraturan “dilarang mencuri”, karena sikap hatinya sungguh bersih dan murni dari hasrat dan keinginan untuk mencuri.  Maka dapat dikatakan, ia sungguh bebas dari hukum pencurian, walaupun hukumannya 10 kali lipat, 100 kali lipat, ataupun hukuman mati, hukum itu menjadi tidak relevan lagi baginya.

Yesus Kristus pun memberikan contoh yang sangat sempurna, di mana secara bebas, Yesus yang 100% Allah yang memiliki kuasa, juga sekaligus 100% manusia yang memiliki kehendak bebas, yang karena cinta-Nya yang sungguh teramat besar kepada kita semua, memilih dengan bebas untuk memberikan diri-Nya sendiri di kayu salib secara total dan setia, untuk menebus dosa kita manusia, sehingga kita bisa beroleh kebebasan dan keselamatan yang kekal.

Jika hari ini teman-teman masih belum mengalami pembebasan yang sepenuhnya, di mana mungkin masih ada hasrat untuk mencontek, bolos, malas, ataupun memiliki keterikatan tertentu terhadap pornografi, masturbasi, perjudian, narkoba dan zat adiktif, free-sex, atau ikatan apapun juga, teman-teman tidak perlu khawatir, karena Yesus Kristus sungguh mencintai teman-teman semua dan mau supaya teman-teman dibebaskan dan memiliki kebebasan yang sejati.

Maukah teman-teman memiliki kebebasan yang sejati? Mari kita membuka hati untuk sungguh-sungguh percaya dan menerima cinta yang Tuhan berikan secara cuma-cuma bagi kita, namun teramat agung dan berharga.