MAMMA M(AR)IA!

Pernah dengar ungkapan “Mamma Mia..!” untuk something yang luar biasa? Mudah-mudahan pernah or minimal familiar ya. However, sebenarnya Mamma Mia itu suatu ungkapan yang dipakai oleh orang Itali (yang kemudian mendunia), untuk mengungkapkan sesuatu yang luar biasa baik, yang dalam arti bahasa sebenarnya memiliki arti “ibuku”.

Saya teringat pada suatu kejadian di masa SMP, saat saya jalan-jalan di sebuah mall di Jakarta Pusat.  Saat itu, saya mendengarkan sebuah pengumuman yang kira-kira bunyinya demikian, Telah ditemukan seorang anak dengan ciri-ciri berbaju kaos merah, celana jeans panjang dan sendal coklat... Bagi Anda yang merasa kehilangan anaknya dapat segera menuju ke counter informasi.

Ketika merefleksikan kejadian ini, saya mencoba memposisikan diri saya sebagai anak kecil yang kehilangan mamanya pada saat itu, karena saya pun pernah mengalami kejadian yang sama pada saat kelas 1 SD.  Ketika saya ingat-ingat lagi, perasaannya galau, mau nangis, merasa sangat tidak aman, takut, kehilangan tumpuan, dan kebingungan, semuanya campur aduk.  Namun ketika saya bertemu kembali dengan mama saya ketika itu, mendadak semua kegalauan dan kecemasan tadi hilang dan digantikan dengan rasa aman, senang, aman yang sungguh luar biasa. MAMMA MIA!!

Saya rasa, paling tidak sebagian besar dari kita pernah mengalami kejadian serupa ya?

Di dalam iman Gereja Katolik, kita mengenal sosok Bunda Maria sebagai Bunda Gereja, yaitu Bunda kita semua orang beriman, berdasarkan teks Kitab Yohanes 19:26-27 yang mengatakan:

(26) Ketika yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” (27) Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Saya sungguh menghormati dan mencintai Bunda Maria dengan tulus baru pada 2-3 tahun belakangan ini saja, di mana pada waktu sebelumnya saya sungguh bergumul, karena saya tidak dapat melihat alasan mengapa saya harus membangun hubungan dan berdoa dengan Bunda Maria, ketika saya bisa langsung berdoa dan membangun hubungan dengan Yesus.

Namun ternyata jawaban yang saya temukan dari ibu saya sangatlah sederhana.  Begini kira-kira cara ibu saya menjelaskannya:

Anggap saja seperti kamu minta sama mama untuk mendoakan kamu supaya lebih dekat dengan Yesus dan mengalami Cinta Allah, mama pasti dengan sangat rela dan sungguh-sungguh mendoakan apa yang kamu minta.  Mamamu aja yang ada di dunia dan penuh ketidaksempurnaan mau mendoakan kamu, terlebih Mama Maria yang ada di surga yang sudah penuh dengan kesempurnaan, yang merupakan Mamanya Yesus.  Pastilah mau mendoakan kamu dan pastilah doanya sungguh lebih punya kuasa”.

Jadi, apa salahnya selain kamu berdoa dan membangun relasi kepada Yesus, kamu juga membangun relasi dan memohon kepada Bunda Maria, untuk mendoakan kamu juga, jika dengan memohon doa dari Bunda Maria bisa membawa kamu lebih dekat kepada Yesus?

Dan seketika itu pula pikiran dan hati saya terbuka untuk mulai berdoa dan membangun hubungan dengan Bunda Maria. MAMMA MIA, MAMMA MARIA!